Roadmap Making Indonesia 4.0 dalam Fokus Pendidikan Wilayah 3T

 Roadmap Making Indonesia 4.0 dalam Fokus Pendidikan Wilayah 3T


Latar Belakang

Pada dasarnya pemerataan pendidikan sangatlah diperlukan oleh suatu Negara. Namun terkadang Negara lupa dengan hal tersebut. Salah satunya pada isu kali ini, dalam sebuah, katakanlah, brosur dari Kementrian Perindustrian yang bertulis “Roadmap Making Indonesia 4.0” guna mengejar ketertinggalan Negara Indonesia dalam bidang industri. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa pada era saat ini, bidang industri sudah masuk ke era Revolusi Industri 4.0 di mana Revolusi Industri itu sendiri merupakan perubahan cara hidup dan proses kerja manusia secara fundamental, dimana dengan kemajuan teknologi informasi dapat mengintregrasikan dalam dunia kehidupan dengan digital yang dapat memberikan dampak bagi seluruh disiplin ilmu. Dengan perkembangan teknologi informasi yang berkembang secara pesat mengalami terobosan diantaranya di bidang artificiall intellegent, dimana teknologi komputer suatu disiplin ilmu yang mengadopsi keahlian seseorang kedalam suatu aplikasi yang berbasis teknologi dan melahirkan teknolologi informasi dan proses produksi yang dikendalikan secara otomatis. Sedangkan dalam Revolusi Industri 4.0 semua proses dilakukan secara sistem otomatisasi didalam semua proses aktivitasi, dimana perkembangan teknologi internet semakin berkembang tidak hanya menghubungkan manusia seluruh dunia namun juga menjadi suatu basis bagi proses transaksi perdagangan dan transportasi secara online (Hamdan, 2018).

Dari uraian di atas, telah tercipta pemikiran sebagaimana rumit Revolusi Industri 4.0 untuk diaplikasikan di wilayah 3T terutama di bidang pendidikan. Dalam, katakanlah, brosur tersebut di poin ke tujuh pada sub bab Indonesia akan mendorong 10 prioritas nasional dalam inisiatif “Making Indonesia 4.0” tertulis “SDM adalah hal yang penting untuk mencapai kesuksesan pelaksanaan Making Indonesia 4.0. Indonesia berencana untuk merombak kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada STEAM (Science, Technology, Engineering, the Arts, dan Mathematics), menyelaraskan kurikulum pendidikan nasional dengan kebutuhan industri di masa mendatang.” Dari uraian di atas, kurikulum pendidikan yang akan diusung pemerintah adalah STEAM. Lantas bagaimana mengimplementasikannya di wilayah 3T?

Tinjauan Pustaka

STEAM (Science, Technology, Engineering, the Arts, dan Mathematics) 

STEM adalah pendekatan pembelajaran terpadu yang menghubungkan pengaplikasian di dunia nyata dengan pembelajaran di dalam kelas yang meliputi empat disiplin ilmu yaitu ilmu pengetahuan alam (sains), teknologi, hasil rekayasa, dan matematiknya. Pendekatan dengan menggunakan STEM dapat berupaya memunculkan keterampilan dalam diri siswa, misalnya kemampuan menyelesaikan persoalan dan kemampuan melakukan penyelidikan. Keterampilan ini penting untuk membantu meningkatkan sumber daya manusia (Khoiriyah, 2018). STEM, terdiri dari empat literasi, yaitu

  1. Literasi sains: kemampuan dalam mengidentifikasi informasi ilmiah, lalu mengaplikasikannya dalam dunia nyata yang juga mempunyai peran dalam mencari solusi.

  2. Literasi teknologi: keterampilan dalam menggunakan berbagai teknologi, belajar mengembangkan teknologi, menganalisis teknologi dapat mempengaruhi pemikiran siswa dan masyarakat.

  3. Literasi desain: kemampuan dalam mengembangkan teknologi dengan desain yang lebih kreatif dan inovatif melalui penggabungan berbagai bidang keilmuan.

  4. Literasi matematika: kemampuan dalam menganalisis dan menyampaikan gagasan, rumusan, menyelesaikan masalah secara matematik dalam pengaplikasiannya.


Pendidikan di Wilayah 3T

Daerah 3T merupakan daerah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia. Sebagian besar daerah 3T menjadi gerbang tapal batas Indonesia. Permasalahan penyelenggaraan pendidikan, utamanya di daerah 3T antara lain  adalah permasalahan pendidik, seperti kekurangan jumlah (shortage), distribusi  tidak seimbang (unbalanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under  qualification), kurang kompeten (low competencies), serta ketidaksesuaian antara  kualifikasi pendidikan dengan bidang yang diampu (mismatched). Permasalahan  lain dalam penyelenggaraan pendidikan adalah angka putus sekolah juga masih  relatif tinggi, angka partisipasi sekolah masih rendah, sarana prasarana belum  memadai, dan infrastruktur untuk kemudahan akses dalam mengikuti pendidikan  masih sangat kurang. Hal ini menjadi perhatian  khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengingat daerah 3T memiliki  peran strategis dalam memperkokoh ketahanan nasional dan keutuhan Negara  Kesatuan Republik Indonesia.

Program SM-3T sebagai salah satu Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia ditujukan kepada para Sarjana Pendidikan yang belum bertugas sebagai guru (PNS/GTY), untuk ditugaskan selama satu tahun di daerah 3T. Program SM-3T dimaksudkan untuk membantu mengatasi kekurangan guru, sekaligus mempersiapkan calon guru profesional yang tangguh, mandiri, dan memiliki sikap peduli terhadap sesama, serta memiliki jiwa untuk mencerdaskan anak bangsa, agar dapat maju bersama mencapai cita-cita luhur seperti yang diamanatkan oleh para pendiri bangsa Indonesia.

Argumentasi

Dari tinjauan pustaka diatas, sejujurnya saya pribadi masih miris dengan perlakuan pemerintah terhadap wilayah 3T. Bagaimana tidak? Dengan permasalahan guru dan pembantu guru lulusan sarjana yang masih amatir dalam mengajar ditempatkan di wilayah 3T. Seharusnya pemerintah mengirim ahli bidang atau guru profesional ke wilayah tersebut guna meningkatkan intelektual peserta didik. Dengan maksud yang baik, pemerintah mengorbankan masa depan anak bangsa. Terlebih lagi dengan tuntutan pada brosur itu di mana pemerintah menginginkan kurikulum menggunakan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, the Arts, dan Mathematics). Hal tersebut tidaklah mudah, terutama di wilayah Terbelakang dan Tertinggal sebab keterbatasan media, terutama perihal teknologi dan hasil rekasaya. Sebagaimanapun guru disana yang tidak seusai dengan kompetensi atau lulusan sarjana, katakanlah guru muda, pasti akan mengalami kebingungan dalam mengimplementasikannya. Apalagi dengan adanya temuan sebagaimana di tinjauan pustaka “Permasalahan penyelenggaraan pendidikan, utamanya di daerah 3T antara lain  adalah permasalahan pendidik, seperti kekurangan jumlah (shortage), distribusi  tidak seimbang (unbalanced distribution), kualifikasi di bawah standar (under  qualification), kurang kompeten (low competencies), serta ketidaksesuaian antara  kualifikasi pendidikan dengan bidang yang diampu (mismatched).” Harus di perhatikan oleh pemerintah.

Saran

Saran saya untuk pemerintah, saya harap pemerintah lebih memperdulikan masyarakatnya untuk meningkatkan kualitas SDM ketimbang terlihat lebih modern. Sebagaimana kata pepatah “Rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri” pemerintah janganlah seperti itu.

Daftar Pustaka

Kementerian Perindustrian. ----. Making Indonesia 4.0. Indonesia: Kementerian Perindustrian

Khoiriyah, Nailul. 2018. Implementasi Pendekatan Pembelajaran STEM untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA pada Materi Gelombang Bunyi [Skripsi]. Bandar Lampung (ID): Universitas Lampung

Subarkah. 2016. Analisis Program Sarjana Mengajar di Daerah Terluar Terdepan dan Tertinggal (SM3T) dalam Pemerataan Tenaga Pendidik di Indonesia. Yogyakarta: Universitas PGRI Yogyakarta

      


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyimpanan Dan Transmisi Data Dalam Bentuk Analog Dan Digital Serta Penerapannya Dalam Bentuk Teknologi Informasi Dan Komunikasi Yang Nyata

PERCOBAAN GELOMBANG BERJALAN PADA BIDANG/PERMUKAAN

Contoh Elektronika Dasar Rangkaian Setara Thévenin