Elektronika Dasar Transistor: Penguat Common – Emitter
Transistor: Penguat Common – Emitter
Abstrak
Percobaan kali ini membahas Transistor. Transistor adalah suatu komponen aktif dibuat dari bahan semikonduktor. Komponen ini digunakan di dalam rangkaian untuk memperkuat sinyal. Transistor dwi kutub dibuat dengan menggunakan semikonduktor ekstrinsik jenis p dan jenis n. Berdasarkan susunan p-n nyakomponen ini terdiri dari 2 jenis, yaitu komponen pnp dan komponen npn. Percobaan ini bertujuan untuk menganalisis garis beban DC dan AC dari rangkaian uji penguat Common Emitor, menganalisis sinyal potong dari rangkaian uji penguat Common Emitor, serta menganalisis kurva pembebanan dari rangkaian uji penguat Commom Emitor dengan metode yang digunakan berupa metode ilmiah dengan media Proteus 8 Professional. Percobaan ini menghasilkan data tabel, kurva antara arus dan tegangan yang nantinya akan diolah dan menghasilkan kesimpulan berupa pengaruhnya nilai amplitudo dan frekuensi terhadap nilai tegangan keluaran dan gain, serta nilai kesalahan gain percobaan.
Kata Kunci: Frekuensi, Gain, Transistor
I. Tujuan
a) Menganalisis garis beban DC dari
rangkaian uji penguat Common
Emitor.
b) Menganalisis garis beban AC dari
rangkaian uji penguat Common
Emitor.
c) Menganalisis sinyal potong dari rangkaian uji penguat Common
Emitor.
d) Menganalisis kurva pembebanan dari rangkaian uji penguat
Commom Emitor.
II. Teori Dasar
Transistor adalah suatu
komponen aktif dibuat dari bahan semikonduktor. Komponen ini digunakan di dalam rangkaian untuk memperkuat sinyal. [1]. Transistor dwi kutub dibuat dengan menggunakan semikonduktor ekstrinsik jenis p dan jenis n yang disusun seperti pada Gambar 1.
Gambar 1. Susunan Transistor Dwikutub [2]
Ketiga bagian dari transistor ini disebut emitor, basis, dan kolektor. Emitor berasal dari kata bahasa Inggris “Emitter” yang berarti pengeluar. Basis berasal dari kata bahasa Inggris “Base” yang berarti tumpuan atau landasan. Kolektor berasal dari kata bahasa Inggris “Collector” yang berarti pengumpul.[3].
Prinsip kerja dari transistor secara simpel adalah, dengan adanya arus yang mengalir dari kaki basis ke emitor, maka arus yang lebih besar akan mengalir dari kaki kolektor ke emitor. Untuk dapat bekerja, pada transistor tipe npn sambungan BE diberikan tegangan forward bias dan
sambungan BC diberi tegangan reverse bias. Arus yang melewati transistor memenuhi persamaan arus total transistor (persamaan (1)).
(1) Rangkaian Penguat CE
Pada rangkaian penguat Common Emitor (CE), sinyal masuk melalui basis dan emitor dihubungkan dengan ground, sedangkan output diambil dari kolektor. Seperti tampak pada Gambar 2, rangkaian penguat CE tersebut diberi transistor npn dan sambungan BC diberi tegangan reverse bias.
Gambar 2. Rangkaian Uji Penguat Common Emitor
Ciri keluaran transistor untuk rangkaian penguat CE akan tampak kurva karakteristik arus ( ) terhadap tegangan ( ) seperti pada Gambar 3. Sumbu tegak adalah arus kolektor , dan sumbu datar adalah beda tegangan antara kolektor dan emitor dengan parameter arus basis . Sedangkan untuk ciri masukan pada rangkaian tersebut ditunjukkan pada kurva karakteristik arus ( ) terhadap tegangan ( ) Gambar 4. Sumbu tegak adalah arus basis dan sumbu datar adalah . Perbandingan nilai Vout dan Vin dari rangkaian menunjukkan nilai penguatan yang dihasilkan. Untuk mengetahui nilai penguatan tersebut dapat diperoleh melalui persamaan (2).
(2)
Gambar 3. Kurva Karakteristik Ciri Keluaran pada Rangkaian Penguat CE [4] Gambar 4. Kurva Karakteristik Ciri Masukan pada Rangkaian Penguat CE [5] Garis Beban DC
Dalam merancang suatu penguat, garis beban dapat digunakan untuk memudahkan dalam menentukan Q point yang akan digunakan dalam menganalisis rangkaian secara grafik. Pada Gambar 5, ditunjukkan garis beban karakteristik ciri keluaran pada rangkaian penguat CE.
Gambar 5. Garis Beban DC pada Rangkaian Uji Penguat CE [5]
Rangkaian Setara Transistor Sinyal input pada rangkaian penguat CE masuk melalui kaki basis, keluar melalui kolektor, dan emitor di
ground (ditanahkan). Rangkaian setara yang dapat digunakan untuk menganalisa rangkaian tersebut, seperti pada Gambar 6 dinamakan rangkaian setara-h.
Gambar 6. Rangkaian Seatara-h untuk Transistor pada Rangkaian Penguat CE [6] Garis Beban AC
Dalam menggunakan rangkaian penguat, seringkali diperlukan sinyal output dengan amplitudo besar. Garis beban AC ditentukan dengan menggunakan sinyal kecil di sekitar Q
point. Kemudian disambung sehingga memotong sumbu dan sumbu seperti ditunjukkan pada Gambar 7. Untuk menentukan kemiringan garis beban AC digunakan rangkaian serata penguat transistor dan nilai kemiringan garis beban ditentukan melalui persamaan (3).
Gambar 7. Garis Beban AC pada Rangkaian Uji Penguat CE
Gambar 8. Rangkaian Percobaan
Tabel 1. Hasil Data Percobaan 1 dan 2 DC AC
IC (mA) VCE (V) IC (mA) VCE (V) 4.73 15 6.29 12
Q-point
ICQ (mA) VCEQ (V)
2.36 7.5
Selain itu, batas sinyal potong
berada pada kisaran pengali amplitudo 4.5 dengan dihasilkan data
Tabel 2. Hasil Data Percobaan 3
f(Hz) VIN (V) VOUT (V) G
10,000 0.22 1.76 7.9
Selanjutnya, dengan pengali
amplitudo 1, didapatkan data
Tabel 3. Hasil Data Percobaan 4
f(Hz) VIN (V) VOUT (V) G
100 0.22 1.8 8.18
300 0.22 1.8 8.18
500 0.22 1.8 8.18
700 0.22 1.8 8.18
900 0.22 1.8 8.18
1,000 0.22 1.8 8.18
3,000 0.22 1.8 8.18
5,000 0.22 1.8 8.18
7,000 0.22 1.8 8.18
9,000 0.22 1.8 8.18
10,000 0.22 1.8 8.18
Dengan nilai kesalahan Gain percobaan 3.45%
IV. Pengolahan Data
Dari data percobaan di atas,
didapatkan garis beban AC dan DC seperti pada Gambar 9.
III. Data
(3)
Dari sebuah rangkaian percobaan ini, didapatkan garis beban AC dan DC.
C
D
n
a
d
C
A
n
a
b
e
B
s
i
r
a
G
.
9
r
a
b
m
a
G
V. Analisis
potong yang disebut dengan Q
point
b) Sinyal potong yang disebutkan itu adalah frekuensi cut-off dari suatu
transistor. Itulah mengapa Q-point
juga disebut titik kerja dari suatu
transistor
c) Nilai kesalahan Gain merupakan nilai yang diambil dari dua situasi
yang berbeda.
VII. Pustaka
[1]. Sutrisno. 1986. Elektronika Teori dan Penerapannya. Bandung:
Penerbit ITB. [117]
[2]. Floyd, Thomas L. 2005. Electronic Device, 7th edition.
Prentice Hall. [166]
[3]. Sutrisno. 1986. Elektronika Teori dan Penerapannya. Bandung:
Dari pengolahan data di atas,
terlihat bahwa seluruh kurva memiliki titik potong yang sama, yaitu pada Q point sekitar (1.18, 7.5). Q-point merupakan titik kerja optimal dari sebuah rangkaian
Pada dasarnya, rangkaian
transistor memiliki batas maksimum nili amplitudo 4.5, seperti yang dilakukan pada percobaan 3. Pada saat itu, nilai tengangan keluaran pada ambang batas frekuensi cut-off yaitu sebesar 1.76
. Nilai tengangan keluar tidak mesti sama pada rangkaian yang sama. Hal ini bergantung pada nilai amplitudo dan frekuensi dari suatu rangkaian. Pada saat frekuensi mendekati nilai cut off nya, nilai tegangan keluarannya akan menurun. Hal tersebut menyebabkan nilai Gain antara percobaan dan teori berbeda. Pada percobaan ini, nilai kesalahan Gain percobaan tersebut berkisar pada 3.45%
VI. Simpulan
Dari laporan di atas, didapatkan bahwa:
a) Garis beban DC dan AC berbeda, namun ada kesamaan atau titik
Penerbit ITB. [119]
[4]. Floyd, Thomas L. 2005. Electronic Device, 7th edition. Prentice Hall. [172]
[5]. http://www.edaboard.com/threa d224538.html
[6]. http://najmifisika13.blogspot.co m/2015/03/penguat
gandengan-rc.html
Komentar
Posting Komentar